Jumat, 12 Juni 2015

[BUMI-Tere Liye] : Tersesat di Kota Tishri



 
Tere Liye
438 halaman
13 cm x 20 cm
Goodreads rating : 4,10
Cetakan kedua: Januari 2014
Gramedia Pustaka Utama

Namaku Raib, usiaku 15 tahun, kelas sepuluh.
Aku anak perempuan seperti kalian, adik-adik
kalian, tetangga kalian. Aku punya dua kucing,
namanya si Putih dan si Hitam. Mama dan papaku
menyenangkan. Guru-guru di sekolahku seru.
Teman-temanku baik dan kompak.

Aku sama seperti remaja kebanyakan, kecuali Satu
hal. Sesuatu yang kusimpan sendiri sejak kecil.
Sesuatu yang menakjubkan.

Namaku, Raib. Dan aku bisa menghilang.

 Saya selalu suka novel Tere Liye sejak membaca karyanya yang berjudul Negeri di Ujung Tanduk. Dan sejak saat itu saya selalu berburu karya-karya Tere Liye yang lain.

Bumi adalah awal dari kisah karangan Tere Liye yang bergendre fantasi. Awal dari buku ini menceritakan tentang gadis remaja bernama Raib yang memiliki kemampuan dapat “menghilang”. Tak ada yang tahu tentang rahasia besar yang disimpan Raib. Hingga kejutan besar itu tiba. Ada yang mengetahui rahasia besar itu, bukan hanya satu, melainkan susul-menyusul. Seluruh kehidupan Raib mendadak berubah seratus delapan puluh derajat.

Tokoh lain dalam buku ini adalah Seli. Tidak hanya Raib sebenarnya yang memiliki kemampuan special, Seli, sahabat Raib juga memiliki kemampuan mengeluarkan petir dari tangannya. Dan sahabat Raib yang lainnya yaitu Ali. Ali hanya remaja biasa yang tidak memiliki kemampuan apapun, tapi Ali memiliki otak yang brilian. Ia menyukai ilmu pengetahuan dan menciptakan beberapa alat ajaib yang dianggap Raib tak berguna.

Petualangan mereka dimulai sejak sebuah insiden jatuhnya tiang listrik, naluri menyelamatkan diri Seli muncul ketika kabel listrik mengarah pada mereka (Seli dan  Raib). Secara spontan Seli meraih kabel itu tanpa terkena sengatan listrik dan membuat Raib tertegun sejenak sebelum menyadari tiang listik kemudian hampir menimpa mereka. Dan tanpa pikir panjang Raib membuat tiang listrik hilang dengan kemampuan yang dia miliki. Hal tersebutlah yang menjadi sebab Raib, Seli, dan Ali tersesat ke dunia bulan, dengan mengikuti arahan yang diberikan oleh miss Selena (guru marematika mereka). Mereka tersesat di rumah Ilo, yang dihuni oleh Ilo, istri dan anaknya di kota Tishri (dunia bulan).

Saat di dunia bulanlah mereka mengetahui alasan Raib dan Seli memiliki kekuatan special. Bahasa dunia bulan berbeda dengan bahasa bumi. Hanya Raib yang secara otomatis mengerti bahasa bulan. Karena Raib adalah keturunan klan bulan. Tapi dengan kecerdasan yang dimiliki Ali, Ali mampu mempelajari bahasa bulan hanya dalam satu malam.

Di dunia bulan mereka harus melakukan pelarian dari pengejaran pasukan bayangan dan menyelamatkan miss selena yang menjadi sandera.

Tere Liye dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dicerna, mampu membawa pembaca masuk ke dalam cerita. Hanyut dalam ketegangan petualangan tiga sahabat ini.

Tidak ada latar tempat yang jelas di dalam novel ini, misalnya Bandung, Bogor, Banjarmasin. Tidak dijelaskan dimana rumah atau sekolah Raib di dunia bumi.  Tere liye lebih memilih menggambarkan suasana lokasi secara jelas. Dan itu membuat pembaca membayangkan gambaran lokasi sendiri sesuai khayalan mereka dan memanjakan imajinasi pembaca.

Dunia bulan digambarkan dengan memiliki bentang alam yang sama dengan dunia bumi, tetapi dengan bangunan yang berbeda. Rumah-rumah di dunia bulan berbentuk balon besar yang terbuat dari beton, dengan tiang. Sehingga hutan, sungai, dan bentang alam lainnya yang masih asri, tak ada yang tersentuh oleh tangan-tangan manusia.

Tere Liye tetap konsisten dengan pesan moral yang selalu terselip di tiap-tiap karyanya. Yang paling saya ingat adalah sumber kekuatan terbaik bagi manusia adalah yang sering kalian sebut dengan tekat, kehendak. Bukan rasa marah, panik, cemas. karena bisa saja kekuatan yang ditimbulkan justru dapat merusak segalanya, dan kita terlambat menyadarinya.

Bumi menceritakan tentang dunia parallel. Dunia parallel yang berjalan bersamaan namun tak saling mengganggu. Seperti computer yang walaupun beberapa program dijalankan sekaligus, tak akan mengganggu program lainnya. Terdapat empat dunia yang sempat disinggung dalam cerita ini. yang pertama, klan Bumi, yang paling banyak jumlahnya dan paling banyak menggunakan sumber daya planet. Yang kedua, klan Bulan, memiliki kebijaksanaan hidup dan pengetahuan mengagumkan. Ketiga, klan Matahari. memiliki teknogi yang maju. Keempat, klan Bintang, klan titik terjauh, tak ada yang tau bagaimana peradaban di klan bintang.

Bisa jadi setelah buku pertama yang judul Bumi dan buku kedua yang berjudul Bulan (terbit Maret 2015). kemungkinan buku berikutnya berjudul Matahari dan Bintang, itu cuma menurut pendapat pribadi aja sih.

Rating untuk novel yang satu ini 4,3 cukup. Karena saat awal-awal baca ada pengulangan-pengulangan yang seharusnya bisa dihapus aja. Untuk yang suka baca ataupun baru mau mencoba untuk menyukai buku. Buku ini bisa jadi best recommended untuk kalian. Selamat membaca dan menikmati petualangan Raib dan kawan-kawan.

Quote   :  “Apapun yang terlihat, boleh jadi tidak seperti yang kita lihat. Apapun yang hilang, tidak selalu lenyap seperti yang kita duga. Ada banyak sekali jawaban dari tempat-tempat yang hilang. Kamu akan memperoleh semua jawaban . Masa lalu, hari ini, juga masa depan.”


Reviewer : Eka Ristia Damayanti
Twitter :@RistiaDamayanti  

Minggu, 07 Juni 2015

"Tanpamu"



Akulah fajar itu
Sekiranya tidak ada atmosfer  
yang membungkus bola Bumi
Maka tak akan ada aku
Tak akan ada keadaan peralihan antara gelap dan terang
Tanpa atmosfer, maka gelap akan tiba-tiba berubah
menjadi terang
saat terbitnya matahari
Tak ubahnya dengan mendadaknya terang
saat lampu kamarmu dinyalakan.
Tanpamu, tak akan ada aku.

 

Jumat, 06 Februari 2015

Kura-Kura



Oleh : Eka Ristia Damayanti
“Hallo”
“Akhirnya kamu angkat juga telponku bi, ke mana aja kau dari tadi? Dari tadi aku sudah menunggumu, dua jam lagi acaranya mulai dan kamu belum mempersiapkan apapun. ”Suara itu menerjang telingaku, bahkan aku belum sempat benar-benar meletakkan ponsel ini di telingaku.
“Hehe, iya mit, maaf, aku tadi--” belum tuntas kalimat yang akan kuucapkan, Mita sudah kembali mengomeliku. “yee malah nyengir, cepat siap-siap dan buka pintu karena aku sudah sejak tadi berada di sini.”
 “Iya baweel, tunggu bentar ya--”
Pembicaraan aku dan Mita pun terputus. Sebenarnya kepalaku sedikit pusing karena bangun dengan cara yang mengagetkan. Dengan mengerahkan seluruh tenaga yang ada dan langkah kaki yang sedikit dipaksakan aku menuju ke kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri, aku membuka lemari yang ada di sebelah kanan tempat tidurku. Akupun mengambil kaos berwarna cream dengan bawahan jeans untuk aku kenakan hari ini.
            Dengan sigap aku membuka pintu, mataku langsung tertuju pada gadis dengan dress berwarna peach sedang duduk di kursi teras sambil memainkan ponsel yang ada di tangan kanannya. Rupanya memang sudah lama Mita menungguku di sini, terbukti dengan wajahnya yang terlihat bahwa dia sudah bosan. Tanpa membuang waktu kami langsung bergegas menuju mobil.
          Hari sudah mulai gelap. Matahari sebagai penerangan mulai digantikan oleh lampu-lampu jalan. Malam ini adalah konser pertamaku, ada perasaan bahagia tapi juga gugup yang campur aduk dalam benakku. Perjalanan yang lumayan panjang itu membuatku lelah dan sempat tertidur, dan tak terasa telah tiba di tempat tujuan. Aku turun dari mobil dan segera menuju ruang ganti. Untuk menyegarkan diri, aku menuju ke Toilet yang berada tepat disebelah ruang ganti.
Tepat di hadapanku terpasang cermin besar yang memantulkan bayangan benda yang ada di sekitar ruangan. Mataku tertuju pada pot kramik yang di salah satu sisinya terukir bentuk kura-kura. Melihat pot itu, aku jadi teringat sesuatu. Pikiranku berkelana jauh ke waktu saat aku masih duduk di bangku sekolah.
*********

Beberapa tahun yang lalu
Saat itu aku baru pulang sekolah, aku selalu menyusuri jalan setapak berbatu ini. Ya, ini adalah jalan penghubung antara sekolah dengan rumahku. Matahari siang itu sepertinya malu-malu kucing dan lebih memilih bersembunyi di balik awan hitam yang seolah ingin memuntahkan babannya. Anganku melayang membayangkan bagaimana reaksi ibu nanti? Bagaimana caraku menyampaikan pada ibu? Ah ya sudahlah, aku hanya perlu keberanian untuk memberi kabar ini.
Hanya perlu 15 menit untukku sampai ke rumah. Sesampainya dirumah aku melihat Ibu dan Rima adikku sedang duduk diruang depan.
“Robi sudah pulang. Bi bagaimana dengan hasil rapotmu? Lihat ini.” Sambil menyodorkan rapot dari Rima “Rima juara satu lagi bi.” Sambung ibuku, terlihat dari wajah ibu yang sangat bangga dengan adikku. Bagaimana dengan aku? Aku tak pernah sekalipun membuat mereka bangga dengan prestasi apapun. Aku sangat berbeda dengan Rima, Rima selalu dapat membuat mereka bangga dengan prestasinya. Ku tatap lekat mata ibuku, entah dari mana aku harus memulai pembicaraan ini, perlahan aku mulai bicara. “Ya begitulah bu,” sambil memperkirakan respon apa yang akan kuterima setelah ini aku melanjutkan kalimatku “Robi belum bisa seperti Rima.” Aku masih menatap lekat mata ibuku, menunggu respon apa yang akan diberikan.
“Ya bagaimana bisa kamu seperti Rima, belajar pun kamu jarang. Kamu itu kalau sudah dikamar ya main gitar” aku melihat kekecewaan di wajahnya ketika mengucapkan itu, Tapi aku juga tidak bisa menutupi rasa sakit hatiku. Ingin sekali aku protes, ingin sekali aku berteriak aku adalah aku, takkan pernah bisa menjadi Rima. Ibu selalu saja membandingkan aku dan Rima. Namun aku hanya membisu mendengarnya, tak sepatah katapun yang aku ucapkan untuk meluapkan kekesalanku. Entahlah. Mungkin memang tak ada satu katapun yang mampu menggambarkan perasaanku.
“Bu, Robi pamit keluar sebentar” sambil menahan emosi agar nada bicaraku tidak meninggi,  Aku meletakkan tasku di atas kasur dan buru-buru membuka pintu dan menuju sungai untuk menenangkan pikiran. Sesampainya aku disungai aku duduk di batu besar yang memiliki permukaan datar. Di tempat ini aku biasa menyendiri, menurutku bersentuhan dengan air tidak hanya akan menyegarkan badan, tapi juga mampu mendinginkan fikiran. Ya, kali ini hati dan fikiranku sedang panas, karena ibu selalu membandingkan aku dan Rima. Aku yakin tak ada satupun makhluk di bumi ini yang suka jika selalu dibanding-bandingkan, terlebih lagi dalam hal ini akulah yang menjadi objek pembanding yang bersifat negatif. Memikirkan hal itu membuat aku tak mampu menahan air mata ini, tapi aku adalah laki-laki yang terlalu menjunjung tinggi gengsi jika harus menangis karena hal ini.
Aku mengambil air sungai dengan kedua telapak tanganku lalu mengusapkan ke wajahku. Aku tak ingin air mataku terlihat oleh orang lain yang secara kebetulan melintas di sekitar sungai ini. Pandangan ku tertuju pada tepi sungai ini, aku melihat seekor hewan yang sedang berjalan sangat lambat sedang menyusuri tepi sungai. Kura-kura. Hewan ini memang lambat. Mataku tak pernah lepas memandang kura-kura itu, selama aku mengamatinya tak pernah sekalipun aku melihat kura-kura melangkah kebelakang atau putar balik. Dia berjalan perlahan tanpa pernah putar balik, dia selalu berjalan ke depan dengan pasti dan tetap konsisten pada satu tujuan. Aku tak pernah melihatnya untuk berusaha menjadi lebih cepat.
Melihat hal itu aku pun ingin seperti kura-kura. Tanpa berusaha untuk menjadi lebih cepat. Tapi selalu fokus pada satu tujuan. Bukankah dengan berjalan perlahan itu artinya akan semakin banyak melihat sekitar?....
“Bi, cepat. Tinggal setengah jam lagi.” Suara Mita menyadarkanku dari ingatan masa laluku. Aku tersenyum dan bergegas untuk mempersiapkan diri.
*********

Suara gemuruh penonton memenuhi gedung. Lighting panggung menambah meriah suasana. Malam ini banyak yang hadir, terima kasih sekali. Ini adalah bentuk apresiasi untuk karya-karyaku. Setiap lagu yang kubawakan sukses membuat penonton bersahutan mengikuti alunan suara dan aransmen yang mengiringinya. Untuk menutup konser malam ini aku bernyanyi sambil memainkan keyboard yang berada di sebelah kanan panggung. Konser pun berakhir dengan sukses. Penonton terlihat menikmati pertunjukanku malam ini.
Setelah acara selesai, aku kembali ke belakang panggung. Pandanganku mengarah pada sosok wanita paruh baya dan wanita cantik yang berdiri tepat disampingnya. Aku sangat mengenali mereka. Tepat. Mereka adalah ibu dan adikku, kuhampiri mereka dengan senyum yang tak pernah lepas menghiasi wajahku malam ini. perasaan senang, rindu, dan haru bercampur jadi satu.
Aku menghamburkan pelukan pada ibuku. Tak ada kata yang terucap selama beberapa saat, kami hanyut dalam perasaan masing-masing.“Selamat ya ka” aku menengok kearah sumber suara itu, kulihat adikku dengan pembawaan yang tenang namun terlihat ceria. “iyaa dek, makasih.” Saat ini Rima bekerja di salah satu proyek di Bandung sabagai arsitek, dan aku senang dia meluangkan waktu untuk malam ini.
“Nak, ibu sangat bangga dengan kalian” ucap ibu sambil me lingkarkan tangan kanannya pada bahuku dan tangan kirinya pada bahu Rima. Kata-kata itu menambah kebahagiaanku malam ini, dan akhirnya aku bisa membuat ibuku bangga dengan cara yang berbeda dari Rima.

@RistiaDamayanti

Rabu, 24 Desember 2014

Ini Bukan Kesialan





[Eka Ristia Damayanti]

Aku mempercepat langkah, kulirik jam tangan yang terpasang di pergelangan tangan kiriku. Sepertinya aku sudah terlambat. Saat aku telah berada didepan ruang 23 aku berjalan perlahan agar langkah kakiku tak terdengar. Kudekatkan telingaku pada daun pintu, hanya ingin memastikan apakah pelajaran sudah mulai.
Aku membuka pintu. Benar seperti perkiraanku, pelajaran telah mulai, mungkin kurang dari satu menit yang lalu. Seorang dosen dengan kemeja batiknya dan kumis yang bertengger di bawah hidungnya yang sedang duduk manis di depan ruangan. Ia menatapku tanpa sepatah katapun. Ia hanya mengangkat tangan kanannya seraya melihat jam tangan kemudian menatapku lagi. Tak ada komunikasi lisan, tapi aku paham apa yang ingin disampaikannya. Aku menunduk sembari menutup kembali pintu.
Aku menatap langit, menyipitkan mata, cahaya matahari terlalu berani pagi ini. cahaya matahari terlalu terik untuk berada langsung di bawahnya. Sepertinya hari ini aku kurang beruntung. Aku hanya terlambat beberapa langkah tapi tak bisa mengikuti perkuliahan. Ah ya sudahlah. Aku menuju keperpustakaan.
Kuedarkan pandangan, kucari tempat yang nyaman untuk membaca. Aku mengambil salah satu buku dari rak di perpustakaan ini. Aku membolak-balik halaman bukunya tanpa benar-benar membacanya, mengikuti setiap kata namun tak benar-benar menyerapnya.
“Ben.” Sapa seorang wanita dengan suara serak dan tipis.
Aku mengalihkan pandangan pada suara itu. Hilana. kami mengambil jurusan yang sama, berada disemester yang sama, namun pada kelas yang berbeda.
“Cari buku atau--” Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku.
“Cuma cari wifi gratis.” Katanya dengan senyum khasnya. Dia terlihat cantik dengan kacamata frame hitam yang ia kenakan. Kurasa sebenarnya ia tak benar-benar membutuhkan kacamata untuk melihat. Tapi ibarat lukisan yang harus dibingkai agar tetap terjaga.
 “Apa kau sedang menunggu seseorang?” Katanya “Emm, maksudku aku ingin duduk disini.” sambungnya lagi.
“Silahkan.” Jawabku.
Ia membuka laptopnya, entah apa yang ingin dicarinya. Keheningan menyelimuti ruangan ini. aku dengan buku ini dan dia dengan laptopnya. Namun beberapa saat kemudian ia tertawa kecil. Cukup terdengar di ruangan yang memang sepi.
“Sepertinya virus plankton sudah mulai menjangkitimu.” Kataku sambil memandang kearahnya.
“Apa? Virus apa?” Dengan sorot mata heran ia bertanya.
“Kau pernah nonton Spongebob square pants?” Jelasku. Ia mengangguk. “tentu kau tau plankton yang memiliki istri seorang Komputer, dan baru saja kau tertawa bersama laptopmu”
“Hehe, aku bukan tertawa bersama komputer” Ia menyela “Coba kau lihat ini” Ia mendekatkan laptop padaku. Mataku penyapu setiap huruf yang tertera di di layar laptop. Kata dengan huruf berwarna hijau menarik perhatianku. Horoskop hari ini.
 “Biar aku bacakan ya.” Ia menarik laptopnya sebelum aku membacanya lebih lanjut dan sebenarnya aku tak tertarik untuk membacanya.
“Kau mempercayainya?” tanyaku.
“Emmm.” Ia mengerutkan keningnya, seperti sedang berpikir keras “Bisa iya bisa tidak.” Ucapnya lagi.
“Bukankah zodiac hanya ada dua belas? Jadi jutaan orang di dunia ini akan memiliki nasib sama hari ini? ” Aku tertawa “Itu konyol” Dia tak terpengaruh, dan tetap membacakannya untukku.
“Hari ini anda akan mendapat mendapat kesialan, jadi berhati-hatilah. Asmara : ada yang diam-diam memperhatikanmu. Keuangan : pengeluaran sedang membengkak, anda perlu berhemat.” Hilana membacanya dengan gaya dibuat-buat dengan menirukan Jeremy Teti. Mataku terus menatapnya seakan dia pusat tata surya dan aku mengorbit di dalamnya.
“Hei, kau dengar? Kau harus berhati-hati” Ia mengulangi ucapannya lagi.
“Tak akan ada kesialan selama kita tidak ceroboh” Sahutku.
“Bukankah kau sekarang ada kuliah? Lalu kenapa kau berada di sini?” Selidik Hilana.
“Hmmh, aku terlambat dan pak Yanto tak mengizinkanku masuk. Beliau tak mentolelir keterlambatan, apapun alasannya.” Jelasku.
“Nah itu dia”
“Apa?”
“Kesialanmu yang pertama”
“Itu bukan kesialan, mungkin lebih pantas disebut kecerobohan.” Aku mencoba meyakinkannya.
Dan kalaupun benar aku terlambat karena kesialan, itu tak apa. Setidaknya aku bisa bersamanya di ruangan ini. 

@RistiaDamayanti


Karya ini adalah hak milik penulis, dilarang meng-copas tanpa izin penulis.

Designed by Animart Powered by Blogger