Oleh
: Eka Ristia Damayanti
“Hallo”
“Akhirnya
kamu angkat juga telponku bi, ke mana aja kau dari tadi? Dari tadi aku sudah
menunggumu, dua jam lagi acaranya mulai dan kamu belum mempersiapkan apapun. ”Suara itu menerjang telingaku, bahkan aku belum sempat benar-benar meletakkan
ponsel ini di telingaku.
“Hehe, iya mit, maaf,
aku tadi--” belum tuntas kalimat yang akan kuucapkan, Mita sudah kembali
mengomeliku. “yee malah nyengir, cepat siap-siap dan buka pintu karena aku sudah
sejak tadi berada di sini.”
“Iya baweel, tunggu bentar ya--”
Pembicaraan
aku dan Mita pun terputus. Sebenarnya kepalaku sedikit pusing karena bangun
dengan cara yang mengagetkan. Dengan mengerahkan seluruh tenaga yang ada dan
langkah kaki yang sedikit dipaksakan aku menuju ke kamar mandi. Setelah selesai
membersihkan diri, aku membuka lemari yang ada di sebelah kanan tempat tidurku.
Akupun mengambil kaos berwarna cream dengan bawahan jeans untuk aku kenakan
hari ini.
Dengan sigap aku membuka pintu, mataku langsung tertuju pada
gadis dengan dress berwarna peach sedang duduk di kursi teras sambil memainkan
ponsel yang ada di tangan kanannya. Rupanya memang sudah lama Mita menungguku
di sini, terbukti dengan wajahnya yang terlihat bahwa dia sudah bosan. Tanpa
membuang waktu kami langsung bergegas menuju mobil.
Hari sudah mulai gelap. Matahari sebagai penerangan mulai
digantikan oleh lampu-lampu jalan. Malam ini adalah konser pertamaku, ada
perasaan bahagia tapi juga gugup yang campur aduk dalam benakku. Perjalanan
yang lumayan panjang itu membuatku lelah dan sempat tertidur, dan tak terasa
telah tiba di tempat tujuan. Aku turun dari mobil dan segera menuju ruang
ganti. Untuk menyegarkan diri, aku menuju ke Toilet yang berada tepat disebelah
ruang ganti.
Tepat
di hadapanku terpasang cermin besar yang memantulkan bayangan benda yang ada
di sekitar ruangan. Mataku tertuju pada pot kramik yang di salah satu sisinya
terukir bentuk kura-kura. Melihat pot itu, aku jadi teringat sesuatu. Pikiranku
berkelana jauh ke waktu saat aku masih duduk di bangku sekolah.
*********
Beberapa
tahun yang lalu
Saat
itu aku baru pulang sekolah, aku selalu menyusuri jalan setapak berbatu ini.
Ya, ini adalah jalan penghubung antara sekolah dengan rumahku. Matahari siang
itu sepertinya malu-malu kucing dan lebih memilih bersembunyi di balik awan
hitam yang seolah ingin memuntahkan babannya. Anganku melayang membayangkan
bagaimana reaksi ibu nanti? Bagaimana caraku menyampaikan pada ibu? Ah ya
sudahlah, aku hanya perlu keberanian untuk memberi kabar ini.
Hanya
perlu 15 menit untukku sampai ke rumah. Sesampainya dirumah aku melihat Ibu dan
Rima adikku sedang duduk diruang depan.
“Robi sudah pulang. Bi bagaimana dengan hasil rapotmu? Lihat ini.” Sambil menyodorkan rapot dari Rima “Rima juara satu lagi bi.” Sambung ibuku, terlihat dari wajah ibu yang sangat bangga dengan adikku. Bagaimana dengan aku? Aku tak pernah sekalipun membuat mereka bangga dengan prestasi apapun. Aku sangat berbeda dengan Rima, Rima selalu dapat membuat mereka bangga dengan prestasinya. Ku tatap lekat mata ibuku, entah dari mana aku harus memulai pembicaraan ini, perlahan aku mulai bicara. “Ya begitulah bu,” sambil memperkirakan respon apa yang akan kuterima setelah ini aku melanjutkan kalimatku “Robi belum bisa seperti Rima.” Aku masih menatap lekat mata ibuku, menunggu respon apa yang akan diberikan.
“Robi sudah pulang. Bi bagaimana dengan hasil rapotmu? Lihat ini.” Sambil menyodorkan rapot dari Rima “Rima juara satu lagi bi.” Sambung ibuku, terlihat dari wajah ibu yang sangat bangga dengan adikku. Bagaimana dengan aku? Aku tak pernah sekalipun membuat mereka bangga dengan prestasi apapun. Aku sangat berbeda dengan Rima, Rima selalu dapat membuat mereka bangga dengan prestasinya. Ku tatap lekat mata ibuku, entah dari mana aku harus memulai pembicaraan ini, perlahan aku mulai bicara. “Ya begitulah bu,” sambil memperkirakan respon apa yang akan kuterima setelah ini aku melanjutkan kalimatku “Robi belum bisa seperti Rima.” Aku masih menatap lekat mata ibuku, menunggu respon apa yang akan diberikan.
“Ya
bagaimana bisa kamu seperti Rima, belajar pun kamu jarang. Kamu itu kalau sudah
dikamar ya main gitar” aku melihat kekecewaan di wajahnya ketika mengucapkan
itu, Tapi aku juga tidak bisa menutupi rasa sakit hatiku. Ingin sekali aku
protes, ingin sekali aku berteriak aku
adalah aku, takkan pernah bisa menjadi Rima. Ibu selalu saja membandingkan
aku dan Rima. Namun aku hanya membisu mendengarnya, tak sepatah katapun yang
aku ucapkan untuk meluapkan kekesalanku. Entahlah. Mungkin memang tak ada satu
katapun yang mampu menggambarkan perasaanku.
“Bu,
Robi pamit keluar sebentar” sambil menahan emosi agar nada bicaraku tidak
meninggi, Aku meletakkan tasku di atas kasur
dan buru-buru membuka pintu dan menuju sungai untuk menenangkan pikiran.
Sesampainya aku disungai aku duduk di batu besar yang memiliki permukaan datar.
Di tempat ini aku biasa menyendiri, menurutku bersentuhan dengan air tidak
hanya akan menyegarkan badan, tapi juga mampu mendinginkan fikiran. Ya, kali
ini hati dan fikiranku sedang panas, karena ibu selalu membandingkan aku dan
Rima. Aku yakin tak ada satupun makhluk di bumi ini yang suka jika selalu dibanding-bandingkan,
terlebih lagi dalam hal ini akulah yang menjadi objek pembanding yang bersifat
negatif. Memikirkan hal itu membuat aku tak mampu menahan air mata ini, tapi
aku adalah laki-laki yang terlalu menjunjung tinggi gengsi jika harus menangis
karena hal ini.
Aku
mengambil air sungai dengan kedua telapak tanganku lalu mengusapkan ke wajahku.
Aku tak ingin air mataku terlihat oleh orang lain yang secara kebetulan
melintas di sekitar sungai ini. Pandangan ku tertuju pada tepi sungai ini, aku
melihat seekor hewan yang sedang berjalan sangat lambat sedang menyusuri tepi
sungai. Kura-kura. Hewan ini memang lambat. Mataku tak pernah lepas memandang
kura-kura itu, selama aku mengamatinya tak pernah sekalipun aku melihat
kura-kura melangkah kebelakang atau putar balik. Dia berjalan perlahan tanpa
pernah putar balik, dia selalu berjalan ke depan dengan pasti dan tetap
konsisten pada satu tujuan. Aku tak pernah melihatnya untuk berusaha menjadi
lebih cepat.
Melihat
hal itu aku pun ingin seperti kura-kura. Tanpa berusaha untuk menjadi lebih
cepat. Tapi selalu fokus pada satu tujuan. Bukankah dengan berjalan perlahan
itu artinya akan semakin banyak melihat sekitar?....
“Bi,
cepat. Tinggal setengah jam lagi.” Suara Mita menyadarkanku dari ingatan masa
laluku. Aku tersenyum dan bergegas untuk mempersiapkan diri.
Suara
gemuruh penonton memenuhi gedung. Lighting panggung menambah meriah suasana.
Malam ini banyak yang hadir, terima kasih sekali. Ini adalah bentuk apresiasi
untuk karya-karyaku. Setiap lagu yang kubawakan sukses membuat penonton
bersahutan mengikuti alunan suara dan aransmen yang mengiringinya. Untuk
menutup konser malam ini aku bernyanyi sambil memainkan keyboard yang berada di
sebelah kanan panggung. Konser pun berakhir dengan sukses. Penonton terlihat
menikmati pertunjukanku malam ini.
Setelah
acara selesai, aku kembali ke belakang panggung. Pandanganku mengarah pada
sosok wanita paruh baya dan wanita cantik yang berdiri tepat disampingnya. Aku
sangat mengenali mereka. Tepat. Mereka adalah ibu dan adikku, kuhampiri mereka
dengan senyum yang tak pernah lepas menghiasi wajahku malam ini. perasaan
senang, rindu, dan haru bercampur jadi satu.
Aku
menghamburkan pelukan pada ibuku. Tak ada kata yang terucap selama beberapa
saat, kami hanyut dalam perasaan masing-masing.“Selamat ya ka” aku menengok
kearah sumber suara itu, kulihat adikku dengan pembawaan yang tenang namun
terlihat ceria. “iyaa dek, makasih.” Saat ini Rima bekerja di salah satu proyek
di Bandung sabagai arsitek, dan aku senang dia meluangkan waktu untuk malam
ini.
“Nak, ibu sangat
bangga dengan kalian” ucap ibu sambil me lingkarkan tangan kanannya pada bahuku
dan tangan kirinya pada bahu Rima. Kata-kata itu menambah kebahagiaanku malam
ini, dan akhirnya aku bisa membuat ibuku bangga dengan cara yang berbeda dari
Rima.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar