Rabu, 24 Desember 2014

Ini Bukan Kesialan





[Eka Ristia Damayanti]

Aku mempercepat langkah, kulirik jam tangan yang terpasang di pergelangan tangan kiriku. Sepertinya aku sudah terlambat. Saat aku telah berada didepan ruang 23 aku berjalan perlahan agar langkah kakiku tak terdengar. Kudekatkan telingaku pada daun pintu, hanya ingin memastikan apakah pelajaran sudah mulai.
Aku membuka pintu. Benar seperti perkiraanku, pelajaran telah mulai, mungkin kurang dari satu menit yang lalu. Seorang dosen dengan kemeja batiknya dan kumis yang bertengger di bawah hidungnya yang sedang duduk manis di depan ruangan. Ia menatapku tanpa sepatah katapun. Ia hanya mengangkat tangan kanannya seraya melihat jam tangan kemudian menatapku lagi. Tak ada komunikasi lisan, tapi aku paham apa yang ingin disampaikannya. Aku menunduk sembari menutup kembali pintu.
Aku menatap langit, menyipitkan mata, cahaya matahari terlalu berani pagi ini. cahaya matahari terlalu terik untuk berada langsung di bawahnya. Sepertinya hari ini aku kurang beruntung. Aku hanya terlambat beberapa langkah tapi tak bisa mengikuti perkuliahan. Ah ya sudahlah. Aku menuju keperpustakaan.
Kuedarkan pandangan, kucari tempat yang nyaman untuk membaca. Aku mengambil salah satu buku dari rak di perpustakaan ini. Aku membolak-balik halaman bukunya tanpa benar-benar membacanya, mengikuti setiap kata namun tak benar-benar menyerapnya.
“Ben.” Sapa seorang wanita dengan suara serak dan tipis.
Aku mengalihkan pandangan pada suara itu. Hilana. kami mengambil jurusan yang sama, berada disemester yang sama, namun pada kelas yang berbeda.
“Cari buku atau--” Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku.
“Cuma cari wifi gratis.” Katanya dengan senyum khasnya. Dia terlihat cantik dengan kacamata frame hitam yang ia kenakan. Kurasa sebenarnya ia tak benar-benar membutuhkan kacamata untuk melihat. Tapi ibarat lukisan yang harus dibingkai agar tetap terjaga.
 “Apa kau sedang menunggu seseorang?” Katanya “Emm, maksudku aku ingin duduk disini.” sambungnya lagi.
“Silahkan.” Jawabku.
Ia membuka laptopnya, entah apa yang ingin dicarinya. Keheningan menyelimuti ruangan ini. aku dengan buku ini dan dia dengan laptopnya. Namun beberapa saat kemudian ia tertawa kecil. Cukup terdengar di ruangan yang memang sepi.
“Sepertinya virus plankton sudah mulai menjangkitimu.” Kataku sambil memandang kearahnya.
“Apa? Virus apa?” Dengan sorot mata heran ia bertanya.
“Kau pernah nonton Spongebob square pants?” Jelasku. Ia mengangguk. “tentu kau tau plankton yang memiliki istri seorang Komputer, dan baru saja kau tertawa bersama laptopmu”
“Hehe, aku bukan tertawa bersama komputer” Ia menyela “Coba kau lihat ini” Ia mendekatkan laptop padaku. Mataku penyapu setiap huruf yang tertera di di layar laptop. Kata dengan huruf berwarna hijau menarik perhatianku. Horoskop hari ini.
 “Biar aku bacakan ya.” Ia menarik laptopnya sebelum aku membacanya lebih lanjut dan sebenarnya aku tak tertarik untuk membacanya.
“Kau mempercayainya?” tanyaku.
“Emmm.” Ia mengerutkan keningnya, seperti sedang berpikir keras “Bisa iya bisa tidak.” Ucapnya lagi.
“Bukankah zodiac hanya ada dua belas? Jadi jutaan orang di dunia ini akan memiliki nasib sama hari ini? ” Aku tertawa “Itu konyol” Dia tak terpengaruh, dan tetap membacakannya untukku.
“Hari ini anda akan mendapat mendapat kesialan, jadi berhati-hatilah. Asmara : ada yang diam-diam memperhatikanmu. Keuangan : pengeluaran sedang membengkak, anda perlu berhemat.” Hilana membacanya dengan gaya dibuat-buat dengan menirukan Jeremy Teti. Mataku terus menatapnya seakan dia pusat tata surya dan aku mengorbit di dalamnya.
“Hei, kau dengar? Kau harus berhati-hati” Ia mengulangi ucapannya lagi.
“Tak akan ada kesialan selama kita tidak ceroboh” Sahutku.
“Bukankah kau sekarang ada kuliah? Lalu kenapa kau berada di sini?” Selidik Hilana.
“Hmmh, aku terlambat dan pak Yanto tak mengizinkanku masuk. Beliau tak mentolelir keterlambatan, apapun alasannya.” Jelasku.
“Nah itu dia”
“Apa?”
“Kesialanmu yang pertama”
“Itu bukan kesialan, mungkin lebih pantas disebut kecerobohan.” Aku mencoba meyakinkannya.
Dan kalaupun benar aku terlambat karena kesialan, itu tak apa. Setidaknya aku bisa bersamanya di ruangan ini. 

@RistiaDamayanti


Karya ini adalah hak milik penulis, dilarang meng-copas tanpa izin penulis.

Selasa, 25 November 2014

Dark Shadow from the Hell





“Aku melihatnya, ia ada di sini!!!” Teriak salah seorang warga yang melintas di jalan sempit di sudut kota. Ia melihat mayat di balik kardus yang dibentanghan. Tak terlihat mencurigakan jika dilihat dari jauh, seluruh tubuhnya tertutup oleh kardus dan hanya mata kaki sampai telapak kaki yang terlihat. Persis seperti gelandangan yang tidur di sudut-sudut kota. Namun tercium bau tak sedap yang dapat membuat perut bergolak dan ingin muntah.
“Apa yang dikatakan orang itu?” Gumam Devina yang mendengar dari kejauhan. Suara teriakan itu secara otomatis mengundang warga untuk mendekat, persis seperti gerombolan laron yang berkumpul mengelilingi sebuah cahaya.
“Apa? Ada apa ini?” Tanya seseorang yang berdiri di samping Devina.
“Aku tak tahu.” Devina menjawab dengan gelengan cepat sembari mempercepat langkah mendekati kerumunan itu.
Ketika semakin dekat dan hanya berjarak tak lebih dari satu meter dari tempat itu, Devina  masih belum bisa melihat dengan jelas karena terhalang oleh kerumunan orang. Ia mencoba mencari celah diantara kerumunan agar dapat melihat lebih jelas. Dengan sedikit berdesakan sekarang ia dapat melihat lebih dekat. Tanpa ragu jari-jari lentiknya menyingkirkan kardus yang menutupi mayat itu. semua mata terkejut karena mayat tak lagi utuh. Leher, tangan dan kaki mayat ini terpisah, ia korban mutilasi.
“Seseorang tolong telepon polisi!” perintah Devina kepada seorang pria bertubuh tambun yang berdiri tak jauh darinya. Devina merupakan seorang dokter yang bekerja di rumah sakit yang tak jauh dari sini dan ia tahu apa yang harus ia lakukan.
Terjadi lagi? Ini adalah korban kedua. Tak ada yang tahu, tak ada yang melihat, ketika seorang warga hilang dan baru ditemukan tiga hari setelahnya. Bagaimana mungkin ada sebuah kejadian yang terlepas dari pandangan mata kota ini, lepas dari pandangn milyaran orang yang tinggal di kota ini. kota ini tak pernah sepi, bahkan pada malam hari sekalipun. Sang pembunuh bagai bayangan gelap yang menyerang korbannya tanpa ampun.
Raungan ambulan dan mobil polisi memecah suasana, semua mata mengalihkan pandangan pada sumber suara. Tenaga medis dengan sigap mengangkat mayat, polisi dengan segera memasang police line di tempat ini.
Devina bersama dengan Brian yang merupakan asistennya dengan segera membawa mayat keruang mayat untuk diotopsi. Pintu kamar mayat dibuka dengan keras. Tanpa ragu ia memerintahkan Brian mengambil peralatan yang diperlukan untuk memulai otopsi. Hasinya tak jauh berbeda korban sebelumnya, ada luka lebam di hampir di setiap jengkal tubuhnya. Itu artinya korban sempat melakukan perlawanan.
Orang macam apa yang malakukan ini.” Gumam Devina dalam hati. Orang itu pasti psikopat, yang senang ketika melihat orang lain menderita. Ia tak membunuhnya secara langsung, ia seperti menikmati setiap penderitaan korban sebelum kematiannya.
Proses otopsi telah selesai, tinggal menyerahkan hasilnya pada kepolisian untuk penyelidikan lebih lanjut. Devina menutupkan kain putih untuk menutup mayat.
“Kau sudah mencatat hasilnya? Berikan padaku!” Pinta Devina kepada Brian yang sejak tadi berdiri disampingnya. Dengan cepat Brian memberikan catatan yang ada di tangannya.
“Dan sekarang, kau boleh pulang.” Ucap Devina sembari keluar ruangan dan bersiap mengunci pintu.
“Apa yang kau tunggu?” Suara Devina terdengar lebih nyaring dan mengagetkan Brian yang masih terpaku di ruangan itu. Entah apa yang ada di pikiran Brian saat itu.
***
            Rasa lelah menyelimuti tubuh Devina setelah sembilan jam berada di ruang otopsi. Tugasnya memang sudah selesai, tapi hal itu tak membuat otaknya beristirahat. Banyak pertanyaan yang terus berputar-putar di otaknya. Namun tak satupun pertanyaan itu terjawab. Terror macam apa yang menyelimuti kota ini.
Cahaya lampu jalan yang temaram menerangi langkah Devina malam ini, hembusan angin membawa aroma ikan yang telah dibaluri bumbu rahasia yang dibakar diatas bara api dan sukses membuat cacing-cacing yang ada di perut Devina demo.
Langkah kakinya secara otomatis berjalan  mengikuti indera penciumannya. “Sepertinya waktunya untuk memanjakan perut.” Gumam Devina, matanya berkeliling menyapu kota, melirik setiap tempat dan berharap menemukan tempat makan yang ia inginkan.
Di tengah perjalanan ada yang mencuri pandangan Devina, tepat didepan matanya dengan radius sepuluh meter terlihat seseorang dengan kemeja biru muda sedang duduk di sebuah kedai yang ada tak jauh dari tempatnya berdiri. Pantulan cahaya lampu jatuh menerpanya. Hanya memerlukan sepersekian detik bagi Devina untuk mengenali sosok itu. Brian.
Devina melangkahkan kakinya perlahan dan kemudian langkahnya melambat, ia ragu untuk menghampiri Devin. Tapi rasa penasarannya lebih besar dari apapun yang ia ragukan sekarang. Devin menarik nafas dalam, kemudian melangkah tanpa memberikan kesempatan pikiran negatifnya menguasai dirinya lagi.
“Kursi ini kosong? Maksudku, apa kau sedang menunggu seseorang?” Tanya Devina.
“Kau boleh duduk di sini jika kau mau”
Devina menggeser kursi untuk ia duduk. Ia menatap Brian dengan tatapan heran.
“Kau masih memikirkan masalah itu?” Tanya Devina tanpa basa-basi.
“Tentu saja, hewan apa yang menyebabkan kekacauan ini”
“Hewan? Ini bukan sekedar hewan, tak ada hewan yang membunuh mangsanya dengan cara memisahkan bagian-bagian tubuhnya”
“Oke, ini lebih dari sekedar hewan.”
“Ya, ini lebih tepat disebut dark shadow from the hell. Ia memotong setiap bagian dengan rapi, kau sendiri tadi melihatnya kan?” Tanya Devina lagi.
“Sebaiknya kau jangan bepergian sendirian, kapanpun ia bisa menemukanmu dan memberimu nasib sama dengan mayat tadi”
“Kenapa? Lalu aku harus bersama siapa? Bukankah tak ada yang bisa kupercaya dalam keadaan seperti ini. termasuk kau.” Jawab Deviana tegas, sebenarnya kata-kata itu untuk menenangkan dirinya sendiri.
***
 Matahari masih belum menampakan sinarnya, tapi suara ribut-ribut di luar sana mengganggu telinga siapapun yang mendengarnya, membangunkan setiap orang yang masih tenggelam dalam dalam mimpinya.
Ada apa di luar sana?” Pikir Devina. Jari-jari lentiknya dengan sigap membuka tirai jendela kamarnya. Matanya menyapu setiap inci dari sudut kota, mencari sumber dari kegaduhan itu. Mobil polisi berjejer tak jauh dari rumahnya.
Apa lagi ini? Ditemukan korban lagi? ” Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Tanpa pikir panjang ia mendekati sumber kegaduhan, bahkan ia masih mengenakan piama tidurnya.
“Tidak. Tak ada korban kali ini, ini penyergapan. Tapi siapa?” Pikir Devina dengan pandangan menyelidik.
Dan jantungnya hampir berhenti berdetak.
Ketika matanya melihat dua orang polisi dengan paksa membawa seorang laki-laki yang lebih muda dariku keluar dari rumahnya. Pandangannya terpaku bahkan ia lupa bagaimana caranya berkedip. Mungkin sekarang mataku hampir keluar dari tempatnya.
Memerlukan waktu lama bagi otaknya untuk menerjemahkan pemandangan yang dilihatnya. Ia ingin menjerit, tapi pita suaranya tidak dapat bergetar. Otaknya masih menolak untuk mempercayai apa yang ia lihat.
Brian
Untuk apa Brian melakukan semua ini.
Sama sekali tak pernah terlintas di dalam pikiran Devina, bahkan tidak di dalam mimpi, jika Brianlah pelakunya. Setiap potongan tubuh manusia yang rapi, bahkan terlalu rapi jika dilakukan orang biasa. Ya, hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang paham ilmu bedah.
Jadi itu alasan Brian bertahan lebih lama di kamar mayat, bahkan saat otopsi telah usai. Alasannya mungkin untuk mengagumi hasik karya pembunuhannya sendiri.


Oleh : @RistiaDamayanti


Cerpen adalah hak milik penulis, dilarang meng-copas tanpa izin penulis.


Designed by Animart Powered by Blogger