“Aku melihatnya, ia ada di sini!!!” Teriak salah
seorang warga yang melintas di jalan sempit di sudut kota. Ia melihat mayat di
balik kardus yang dibentanghan. Tak terlihat mencurigakan jika dilihat dari jauh,
seluruh tubuhnya tertutup oleh kardus dan hanya mata kaki sampai telapak kaki
yang terlihat. Persis seperti gelandangan yang tidur di sudut-sudut kota. Namun
tercium bau tak sedap yang dapat membuat perut bergolak dan ingin muntah.
“Apa yang dikatakan orang itu?” Gumam Devina yang
mendengar dari kejauhan. Suara teriakan itu secara otomatis mengundang warga
untuk mendekat, persis seperti gerombolan laron yang berkumpul mengelilingi
sebuah cahaya.
“Apa? Ada apa ini?” Tanya seseorang yang berdiri di
samping Devina.
“Aku tak tahu.” Devina menjawab dengan gelengan
cepat sembari mempercepat langkah mendekati kerumunan itu.
Ketika semakin dekat dan hanya berjarak tak lebih
dari satu meter dari tempat itu, Devina
masih belum bisa melihat dengan jelas karena terhalang oleh kerumunan
orang. Ia mencoba mencari celah diantara kerumunan agar dapat melihat lebih
jelas. Dengan sedikit berdesakan sekarang ia dapat melihat lebih dekat. Tanpa
ragu jari-jari lentiknya menyingkirkan kardus yang menutupi mayat itu. semua
mata terkejut karena mayat tak lagi utuh. Leher, tangan dan kaki mayat ini
terpisah, ia korban mutilasi.
“Seseorang tolong telepon polisi!” perintah Devina
kepada seorang pria bertubuh tambun yang berdiri tak jauh darinya. Devina
merupakan seorang dokter yang bekerja di rumah sakit yang tak jauh dari sini
dan ia tahu apa yang harus ia lakukan.
Terjadi lagi? Ini adalah korban kedua. Tak ada yang
tahu, tak ada yang melihat, ketika seorang warga hilang dan baru ditemukan tiga
hari setelahnya. Bagaimana mungkin ada sebuah kejadian yang terlepas dari
pandangan mata kota ini, lepas dari pandangn milyaran orang yang tinggal di
kota ini. kota ini tak pernah sepi, bahkan pada malam hari sekalipun. Sang
pembunuh bagai bayangan gelap yang menyerang korbannya tanpa ampun.
Raungan ambulan dan mobil polisi memecah suasana,
semua mata mengalihkan pandangan pada sumber suara. Tenaga medis dengan sigap
mengangkat mayat, polisi dengan segera memasang police line di tempat ini.
Devina bersama dengan Brian yang merupakan
asistennya dengan segera membawa mayat keruang mayat untuk diotopsi. Pintu
kamar mayat dibuka dengan keras. Tanpa ragu ia memerintahkan Brian mengambil
peralatan yang diperlukan untuk memulai otopsi. Hasinya tak jauh berbeda korban
sebelumnya, ada luka lebam di hampir di setiap jengkal tubuhnya. Itu artinya
korban sempat melakukan perlawanan.
“Orang macam
apa yang malakukan ini.” Gumam Devina dalam hati. Orang itu pasti psikopat,
yang senang ketika melihat orang lain menderita. Ia tak membunuhnya secara
langsung, ia seperti menikmati setiap penderitaan korban sebelum kematiannya.
Proses otopsi telah selesai, tinggal menyerahkan
hasilnya pada kepolisian untuk penyelidikan lebih lanjut. Devina menutupkan
kain putih untuk menutup mayat.
“Kau sudah mencatat hasilnya? Berikan padaku!” Pinta
Devina kepada Brian yang sejak tadi berdiri disampingnya. Dengan cepat Brian
memberikan catatan yang ada di tangannya.
“Dan sekarang, kau boleh pulang.” Ucap Devina
sembari keluar ruangan dan bersiap mengunci pintu.
“Apa yang kau tunggu?” Suara Devina terdengar lebih
nyaring dan mengagetkan Brian yang masih terpaku di ruangan itu. Entah apa yang
ada di pikiran Brian saat itu.
***
Rasa lelah menyelimuti tubuh Devina
setelah sembilan jam berada di ruang otopsi. Tugasnya memang sudah selesai,
tapi hal itu tak membuat otaknya beristirahat. Banyak pertanyaan yang terus
berputar-putar di otaknya. Namun tak satupun pertanyaan itu terjawab. Terror
macam apa yang menyelimuti kota ini.
Cahaya lampu jalan yang temaram menerangi langkah
Devina malam ini, hembusan angin membawa aroma ikan yang telah dibaluri bumbu
rahasia yang dibakar diatas bara api dan sukses membuat cacing-cacing yang ada
di perut Devina demo.
Langkah kakinya secara otomatis berjalan mengikuti indera penciumannya. “Sepertinya waktunya untuk memanjakan perut.”
Gumam Devina, matanya berkeliling menyapu kota, melirik setiap tempat dan
berharap menemukan tempat makan yang ia inginkan.
Di tengah perjalanan ada yang mencuri pandangan
Devina, tepat didepan matanya dengan radius sepuluh meter terlihat seseorang
dengan kemeja biru muda sedang duduk di sebuah kedai yang ada tak jauh dari
tempatnya berdiri. Pantulan cahaya lampu jatuh menerpanya. Hanya memerlukan
sepersekian detik bagi Devina untuk mengenali sosok itu. Brian.
Devina melangkahkan kakinya perlahan dan kemudian
langkahnya melambat, ia ragu untuk menghampiri Devin. Tapi rasa penasarannya
lebih besar dari apapun yang ia ragukan sekarang. Devin menarik nafas dalam,
kemudian melangkah tanpa memberikan kesempatan pikiran negatifnya menguasai dirinya
lagi.
“Kursi ini kosong? Maksudku, apa kau sedang menunggu
seseorang?” Tanya Devina.
“Kau boleh duduk di sini jika kau mau”
Devina menggeser kursi untuk ia duduk. Ia menatap
Brian dengan tatapan heran.
“Kau masih memikirkan masalah itu?” Tanya Devina
tanpa basa-basi.
“Tentu saja, hewan apa yang menyebabkan kekacauan
ini”
“Hewan? Ini bukan sekedar hewan, tak ada hewan yang
membunuh mangsanya dengan cara memisahkan bagian-bagian tubuhnya”
“Oke, ini lebih dari sekedar hewan.”
“Ya, ini lebih tepat disebut dark shadow from the hell. Ia memotong setiap bagian dengan rapi,
kau sendiri tadi melihatnya kan?” Tanya Devina lagi.
“Sebaiknya kau jangan bepergian sendirian, kapanpun
ia bisa menemukanmu dan memberimu nasib sama dengan mayat tadi”
“Kenapa? Lalu aku harus bersama siapa? Bukankah tak
ada yang bisa kupercaya dalam keadaan seperti ini. termasuk kau.” Jawab Deviana
tegas, sebenarnya kata-kata itu untuk menenangkan dirinya sendiri.
***
Matahari
masih belum menampakan sinarnya, tapi suara ribut-ribut di luar sana mengganggu
telinga siapapun yang mendengarnya, membangunkan setiap orang yang masih
tenggelam dalam dalam mimpinya.
“Ada apa di
luar sana?” Pikir Devina. Jari-jari lentiknya dengan sigap membuka tirai
jendela kamarnya. Matanya menyapu setiap inci dari sudut kota, mencari sumber
dari kegaduhan itu. Mobil polisi berjejer tak jauh dari rumahnya.
“Apa lagi ini?
Ditemukan korban lagi? ” Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di
kepalanya. Tanpa pikir panjang ia mendekati sumber kegaduhan, bahkan ia masih
mengenakan piama tidurnya.
“Tidak. Tak ada
korban kali ini, ini penyergapan. Tapi siapa?”
Pikir Devina dengan pandangan menyelidik.
Dan jantungnya hampir berhenti berdetak.
Ketika matanya melihat dua orang polisi dengan paksa
membawa seorang laki-laki yang lebih muda dariku keluar dari rumahnya. Pandangannya
terpaku bahkan ia lupa bagaimana caranya berkedip. Mungkin sekarang mataku
hampir keluar dari tempatnya.
Memerlukan waktu lama bagi otaknya untuk menerjemahkan
pemandangan yang dilihatnya. Ia ingin menjerit, tapi pita suaranya tidak dapat
bergetar. Otaknya masih menolak untuk mempercayai apa yang ia lihat.
Brian
Untuk apa Brian melakukan semua ini.
Sama sekali tak pernah terlintas di dalam pikiran
Devina, bahkan tidak di dalam mimpi, jika Brianlah pelakunya. Setiap potongan
tubuh manusia yang rapi, bahkan terlalu rapi jika dilakukan orang biasa. Ya,
hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang paham ilmu bedah.
Jadi itu alasan Brian bertahan lebih lama di kamar
mayat, bahkan saat otopsi telah usai. Alasannya mungkin untuk mengagumi hasik
karya pembunuhannya sendiri.
Oleh : @RistiaDamayanti
Cerpen adalah
hak milik penulis, dilarang meng-copas tanpa izin penulis.
