[Eka Ristia Damayanti]
Aku mempercepat langkah, kulirik
jam tangan yang terpasang di pergelangan tangan kiriku. Sepertinya aku sudah terlambat. Saat aku telah berada didepan ruang
23 aku berjalan perlahan agar langkah kakiku tak terdengar. Kudekatkan
telingaku pada daun pintu, hanya ingin memastikan apakah pelajaran sudah mulai.
Aku membuka pintu. Benar seperti
perkiraanku, pelajaran telah mulai, mungkin kurang dari satu menit yang lalu.
Seorang dosen dengan kemeja batiknya dan kumis yang bertengger di bawah
hidungnya yang sedang duduk manis di depan ruangan. Ia menatapku tanpa sepatah
katapun. Ia hanya mengangkat tangan kanannya seraya melihat jam tangan kemudian
menatapku lagi. Tak ada komunikasi lisan, tapi aku paham apa yang ingin
disampaikannya. Aku menunduk sembari menutup kembali pintu.
Aku menatap langit, menyipitkan
mata, cahaya matahari terlalu berani pagi ini. cahaya matahari terlalu terik
untuk berada langsung di bawahnya. Sepertinya hari ini aku kurang beruntung.
Aku hanya terlambat beberapa langkah tapi tak bisa mengikuti perkuliahan. Ah ya sudahlah. Aku menuju keperpustakaan.
Kuedarkan pandangan, kucari tempat
yang nyaman untuk membaca. Aku mengambil salah satu buku dari rak di
perpustakaan ini. Aku membolak-balik halaman
bukunya tanpa benar-benar membacanya, mengikuti setiap kata namun tak
benar-benar menyerapnya.
“Ben.” Sapa seorang wanita dengan
suara serak dan tipis.
Aku mengalihkan pandangan pada
suara itu. Hilana. kami mengambil jurusan yang sama, berada disemester yang
sama, namun pada kelas yang berbeda.
“Cari buku atau--” Belum sempat aku
menyelesaikan kalimatku.
“Cuma cari wifi gratis.” Katanya dengan senyum khasnya. Dia terlihat cantik
dengan kacamata frame hitam yang ia kenakan. Kurasa sebenarnya ia tak benar-benar
membutuhkan kacamata untuk melihat. Tapi ibarat lukisan yang harus dibingkai
agar tetap terjaga.
“Apa kau sedang menunggu seseorang?” Katanya
“Emm, maksudku aku ingin duduk disini.” sambungnya lagi.
“Silahkan.” Jawabku.
Ia membuka laptopnya, entah apa
yang ingin dicarinya. Keheningan menyelimuti ruangan ini. aku dengan buku ini dan
dia dengan laptopnya. Namun beberapa saat kemudian ia tertawa kecil. Cukup
terdengar di ruangan yang memang sepi.
“Sepertinya virus plankton sudah
mulai menjangkitimu.” Kataku sambil memandang kearahnya.
“Apa? Virus apa?” Dengan sorot mata
heran ia bertanya.
“Kau pernah nonton Spongebob square pants?” Jelasku. Ia
mengangguk. “tentu kau tau plankton yang memiliki istri seorang Komputer, dan
baru saja kau tertawa bersama laptopmu”
“Hehe, aku bukan tertawa bersama
komputer” Ia menyela “Coba kau lihat ini” Ia mendekatkan laptop padaku. Mataku
penyapu setiap huruf yang tertera di di layar laptop. Kata dengan huruf
berwarna hijau menarik perhatianku. Horoskop
hari ini.
“Biar aku bacakan ya.” Ia menarik laptopnya
sebelum aku membacanya lebih lanjut dan sebenarnya aku tak tertarik untuk
membacanya.
“Kau mempercayainya?” tanyaku.
“Emmm.” Ia mengerutkan keningnya,
seperti sedang berpikir keras “Bisa iya bisa tidak.” Ucapnya lagi.
“Bukankah zodiac hanya ada dua
belas? Jadi jutaan orang di dunia ini akan memiliki nasib sama hari ini? ” Aku
tertawa “Itu konyol” Dia tak terpengaruh, dan tetap membacakannya untukku.
“Hari ini anda akan mendapat
mendapat kesialan, jadi berhati-hatilah. Asmara : ada yang diam-diam
memperhatikanmu. Keuangan : pengeluaran sedang membengkak, anda perlu berhemat.”
Hilana membacanya dengan gaya dibuat-buat dengan menirukan Jeremy Teti. Mataku terus
menatapnya seakan dia pusat tata surya dan aku mengorbit di dalamnya.
“Hei, kau dengar? Kau harus
berhati-hati” Ia mengulangi ucapannya lagi.
“Tak akan ada kesialan selama kita
tidak ceroboh” Sahutku.
“Bukankah kau sekarang ada kuliah?
Lalu kenapa kau berada di sini?” Selidik Hilana.
“Hmmh, aku terlambat dan pak Yanto
tak mengizinkanku masuk. Beliau tak mentolelir keterlambatan, apapun
alasannya.” Jelasku.
“Nah itu dia”
“Apa?”
“Kesialanmu yang pertama”
“Itu bukan kesialan, mungkin lebih
pantas disebut kecerobohan.” Aku mencoba meyakinkannya.
Dan kalaupun benar aku terlambat
karena kesialan, itu tak apa. Setidaknya aku bisa bersamanya di ruangan ini.
@RistiaDamayanti
Karya ini adalah
hak milik penulis, dilarang meng-copas tanpa izin penulis.
