Jumat, 06 Februari 2015

Kura-Kura



Oleh : Eka Ristia Damayanti
“Hallo”
“Akhirnya kamu angkat juga telponku bi, ke mana aja kau dari tadi? Dari tadi aku sudah menunggumu, dua jam lagi acaranya mulai dan kamu belum mempersiapkan apapun. ”Suara itu menerjang telingaku, bahkan aku belum sempat benar-benar meletakkan ponsel ini di telingaku.
“Hehe, iya mit, maaf, aku tadi--” belum tuntas kalimat yang akan kuucapkan, Mita sudah kembali mengomeliku. “yee malah nyengir, cepat siap-siap dan buka pintu karena aku sudah sejak tadi berada di sini.”
 “Iya baweel, tunggu bentar ya--”
Pembicaraan aku dan Mita pun terputus. Sebenarnya kepalaku sedikit pusing karena bangun dengan cara yang mengagetkan. Dengan mengerahkan seluruh tenaga yang ada dan langkah kaki yang sedikit dipaksakan aku menuju ke kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri, aku membuka lemari yang ada di sebelah kanan tempat tidurku. Akupun mengambil kaos berwarna cream dengan bawahan jeans untuk aku kenakan hari ini.
            Dengan sigap aku membuka pintu, mataku langsung tertuju pada gadis dengan dress berwarna peach sedang duduk di kursi teras sambil memainkan ponsel yang ada di tangan kanannya. Rupanya memang sudah lama Mita menungguku di sini, terbukti dengan wajahnya yang terlihat bahwa dia sudah bosan. Tanpa membuang waktu kami langsung bergegas menuju mobil.
          Hari sudah mulai gelap. Matahari sebagai penerangan mulai digantikan oleh lampu-lampu jalan. Malam ini adalah konser pertamaku, ada perasaan bahagia tapi juga gugup yang campur aduk dalam benakku. Perjalanan yang lumayan panjang itu membuatku lelah dan sempat tertidur, dan tak terasa telah tiba di tempat tujuan. Aku turun dari mobil dan segera menuju ruang ganti. Untuk menyegarkan diri, aku menuju ke Toilet yang berada tepat disebelah ruang ganti.
Tepat di hadapanku terpasang cermin besar yang memantulkan bayangan benda yang ada di sekitar ruangan. Mataku tertuju pada pot kramik yang di salah satu sisinya terukir bentuk kura-kura. Melihat pot itu, aku jadi teringat sesuatu. Pikiranku berkelana jauh ke waktu saat aku masih duduk di bangku sekolah.
*********

Beberapa tahun yang lalu
Saat itu aku baru pulang sekolah, aku selalu menyusuri jalan setapak berbatu ini. Ya, ini adalah jalan penghubung antara sekolah dengan rumahku. Matahari siang itu sepertinya malu-malu kucing dan lebih memilih bersembunyi di balik awan hitam yang seolah ingin memuntahkan babannya. Anganku melayang membayangkan bagaimana reaksi ibu nanti? Bagaimana caraku menyampaikan pada ibu? Ah ya sudahlah, aku hanya perlu keberanian untuk memberi kabar ini.
Hanya perlu 15 menit untukku sampai ke rumah. Sesampainya dirumah aku melihat Ibu dan Rima adikku sedang duduk diruang depan.
“Robi sudah pulang. Bi bagaimana dengan hasil rapotmu? Lihat ini.” Sambil menyodorkan rapot dari Rima “Rima juara satu lagi bi.” Sambung ibuku, terlihat dari wajah ibu yang sangat bangga dengan adikku. Bagaimana dengan aku? Aku tak pernah sekalipun membuat mereka bangga dengan prestasi apapun. Aku sangat berbeda dengan Rima, Rima selalu dapat membuat mereka bangga dengan prestasinya. Ku tatap lekat mata ibuku, entah dari mana aku harus memulai pembicaraan ini, perlahan aku mulai bicara. “Ya begitulah bu,” sambil memperkirakan respon apa yang akan kuterima setelah ini aku melanjutkan kalimatku “Robi belum bisa seperti Rima.” Aku masih menatap lekat mata ibuku, menunggu respon apa yang akan diberikan.
“Ya bagaimana bisa kamu seperti Rima, belajar pun kamu jarang. Kamu itu kalau sudah dikamar ya main gitar” aku melihat kekecewaan di wajahnya ketika mengucapkan itu, Tapi aku juga tidak bisa menutupi rasa sakit hatiku. Ingin sekali aku protes, ingin sekali aku berteriak aku adalah aku, takkan pernah bisa menjadi Rima. Ibu selalu saja membandingkan aku dan Rima. Namun aku hanya membisu mendengarnya, tak sepatah katapun yang aku ucapkan untuk meluapkan kekesalanku. Entahlah. Mungkin memang tak ada satu katapun yang mampu menggambarkan perasaanku.
“Bu, Robi pamit keluar sebentar” sambil menahan emosi agar nada bicaraku tidak meninggi,  Aku meletakkan tasku di atas kasur dan buru-buru membuka pintu dan menuju sungai untuk menenangkan pikiran. Sesampainya aku disungai aku duduk di batu besar yang memiliki permukaan datar. Di tempat ini aku biasa menyendiri, menurutku bersentuhan dengan air tidak hanya akan menyegarkan badan, tapi juga mampu mendinginkan fikiran. Ya, kali ini hati dan fikiranku sedang panas, karena ibu selalu membandingkan aku dan Rima. Aku yakin tak ada satupun makhluk di bumi ini yang suka jika selalu dibanding-bandingkan, terlebih lagi dalam hal ini akulah yang menjadi objek pembanding yang bersifat negatif. Memikirkan hal itu membuat aku tak mampu menahan air mata ini, tapi aku adalah laki-laki yang terlalu menjunjung tinggi gengsi jika harus menangis karena hal ini.
Aku mengambil air sungai dengan kedua telapak tanganku lalu mengusapkan ke wajahku. Aku tak ingin air mataku terlihat oleh orang lain yang secara kebetulan melintas di sekitar sungai ini. Pandangan ku tertuju pada tepi sungai ini, aku melihat seekor hewan yang sedang berjalan sangat lambat sedang menyusuri tepi sungai. Kura-kura. Hewan ini memang lambat. Mataku tak pernah lepas memandang kura-kura itu, selama aku mengamatinya tak pernah sekalipun aku melihat kura-kura melangkah kebelakang atau putar balik. Dia berjalan perlahan tanpa pernah putar balik, dia selalu berjalan ke depan dengan pasti dan tetap konsisten pada satu tujuan. Aku tak pernah melihatnya untuk berusaha menjadi lebih cepat.
Melihat hal itu aku pun ingin seperti kura-kura. Tanpa berusaha untuk menjadi lebih cepat. Tapi selalu fokus pada satu tujuan. Bukankah dengan berjalan perlahan itu artinya akan semakin banyak melihat sekitar?....
“Bi, cepat. Tinggal setengah jam lagi.” Suara Mita menyadarkanku dari ingatan masa laluku. Aku tersenyum dan bergegas untuk mempersiapkan diri.
*********

Suara gemuruh penonton memenuhi gedung. Lighting panggung menambah meriah suasana. Malam ini banyak yang hadir, terima kasih sekali. Ini adalah bentuk apresiasi untuk karya-karyaku. Setiap lagu yang kubawakan sukses membuat penonton bersahutan mengikuti alunan suara dan aransmen yang mengiringinya. Untuk menutup konser malam ini aku bernyanyi sambil memainkan keyboard yang berada di sebelah kanan panggung. Konser pun berakhir dengan sukses. Penonton terlihat menikmati pertunjukanku malam ini.
Setelah acara selesai, aku kembali ke belakang panggung. Pandanganku mengarah pada sosok wanita paruh baya dan wanita cantik yang berdiri tepat disampingnya. Aku sangat mengenali mereka. Tepat. Mereka adalah ibu dan adikku, kuhampiri mereka dengan senyum yang tak pernah lepas menghiasi wajahku malam ini. perasaan senang, rindu, dan haru bercampur jadi satu.
Aku menghamburkan pelukan pada ibuku. Tak ada kata yang terucap selama beberapa saat, kami hanyut dalam perasaan masing-masing.“Selamat ya ka” aku menengok kearah sumber suara itu, kulihat adikku dengan pembawaan yang tenang namun terlihat ceria. “iyaa dek, makasih.” Saat ini Rima bekerja di salah satu proyek di Bandung sabagai arsitek, dan aku senang dia meluangkan waktu untuk malam ini.
“Nak, ibu sangat bangga dengan kalian” ucap ibu sambil me lingkarkan tangan kanannya pada bahuku dan tangan kirinya pada bahu Rima. Kata-kata itu menambah kebahagiaanku malam ini, dan akhirnya aku bisa membuat ibuku bangga dengan cara yang berbeda dari Rima.

@RistiaDamayanti
Designed by Animart Powered by Blogger